Thursday, January 20, 2011

Perihal ngetem dan hidup

Sepulang dari Blok M tadi malem, seperti biasa saya naik Metro Mini 610 jurusan pondok Labu yang terkenal suka ngoper-ngoper penumpang (emang kita bola bang, dioper-oper??!!?). Jelas bikin keki berat. Tapi karena nggak ada angkutan lain yang lewat Fatmawati dengan tarif murah begitu, mau nggak mau 610 tetep jadi pilihan utama saya.

Nah, malam tadi ada ibu yang baru naik aja udah "nodong" supirnya dengan pertanyaan, "Bang, ini bakal di oper nggak nih?", yang dijawab supir dengan nggak pasti, lalu disambut cibiran oleh si ibu "Yeee.." katanya, tapi pemenangnya tetep si abang karena menutup sesi tanya jawab dengan kalimat, "Kalau nggak mau, nggak usah naik bu!". Reaksi kekalahan si ibu adalah diam dan langsung duduk manis di belakang saya. Pasrah.

Paling males emang dianggap nggak penting dan seenaknya dioper di tengah jalan, padahal sudah hampir sampai, masih jauh atau bahkan ketika menahan kantuk. Reaksi penumpang juga macem-macem, dari yang manggil peliharaannya dirumah, mencak-mencak, menghela nafas berat, atau diam sambil menuju angkutan sebelahnya (tipe reaksi yang saya lakukan dalam keadaan begini), tapi kebanyakan hasilnya sama. Sopir tetap bergeming bagaikan kuping cuma sekedar tempelan. Nggak mau dia dengar keluhan penumpangnya, toh beban hidupnya aja udah banyak. Pada penumpang pun hasilnya selalu begitu, pindah ke angkutan lain walau dengan hati panas, dan gerutuan tiada akhir. Kalau udah gini, mendingan ngetem lama-lama tapi tiba di tujuan dengan angkutan yang sama tanpa dioper-oper, daripada harus menclak-menclok di tengah jalan.

Begitu juga hidup. Kadang, kita selalu merasa nggak sabaran untuk bisa sampai di "tujuan". Menunggu adalah hal tabu, "Kalau bisa sekarang, ngapain nunggu?!", itu pikirnya. Tapi, tak jarang juga ketika kita kira sudah dalam perjalanan menuju mimpi, harapan dan tujuan masing-masing, banyak sandungan yang membuat kita harus "dioper" pada sesuatu yang sama sekali tidak kita sukai. Padahal kita lagi senang-senangnya bermanjaan sama pacar, atau tabungan udah mulai penuh, atau rumah tangga kelihatannya masih adem ayem, atau sahabat kita kayaknya orang yang paling setia, dll.eeehh, ditengah jalan malah putus, bercerai, putus hubungan dengan sahabat karena kepribadiannya mulai tidak kita kenal lagi, dll.

Jadi, daripada mengalami itu semua, saya memilih "ngetem" dulu sebelum saya memutuskan berangkat. Kalaupun di tengah jalan saya mengalami hal yang tidak mengenakkan, saya akan turun karena pilihan, bukan keadaan.

No comments:

Post a Comment