Thursday, June 9, 2011

Mince's Big Day



foto pre wed yang "jawa banget"..love it!


seru-seruan bareng bestmen (lucu-lucu bok! haha)


pasangan yang masih malu-malu menampakkan diri ke publik. 

food hunters lovers

i want Pure Saturday at my wedding too!!

next bride. 2012, ce? :p


Selamat Yasmine dan Adi.. bahagia selalu yaaa  :)






Buka paksa!

ini perkakasnya; palu, obeng dan paku besar


ini korbannya

asisten penjarah


hasil kerusakan


harta jarahan


Rp. 886.500 yang ludes dalam sesaat untuk modal liburan






sore yang hujan di Blok M




bukan rasa takut yang hinggap ketika saya harus menunggu hujan reda di tangga terminal bawah tanah Blok M. 
Selama ini saya hanya melihat mereka sekilas. 
Tapi, ketika duduk selama sekian menit bersama orang-orang yang selama ini hanya saya lihat sebelah mata, membuat saya merasakan kehidupan Jakarta sebenarnya. 
Keras, individual dan apatis. 
Sekian menit yang membuat saya merenung.
Sekian menit yang membuat saya bersyukur.


Monday, May 23, 2011

A Lovely song from a lovely wife

Siapa bilang Alanis cuma bisa bikin lagu sakit hati? Lagu ini buktinya. 





Saya. 

Makin.

Cinta. 

Alanis.





ps. *noyor pala Ryan Reynolds* sookkooorr!!

Tuesday, May 10, 2011

The Lonely Island feat. Michael Bolton


kapan lagi liat Michael Bolton jadi perompak, transeksual, Forest Gump dan mafia berambut hitam..hihihi.
Liriknya kocak dan saya jadi naksir berat sama Akiva Schaffer, itu dia yang memakai kacamata minus, awww...

Thursday, May 5, 2011

Hello baby Ever!


Halo gorgeous!
Ever Imre is soooo cute...am very very happy for them :)

via icydk

Friday, April 29, 2011

'Grey Area' Person

'Grey area' person atau orang yang berada di area abu-abu adalah sebutan yang kami (Dorris dan saya) berikan untuk mereka yang tidak berada di atas maupun di bawah, sebutan untuk orang-orang yang tidak kaya tidak juga miskin, sebutan bagi mereka yang tidak berotak encer tapi juga tidak berotak beku alias bodoh. 'Grey area' person adalah sebutan untuk orang-orang seperti kami.

Begitu deh kalau lagi ngobrol serius sama Dorris, saking seriusnya, kita malah sering ngomongin hal-hal random yang rada-rada nggak penting (buat mereka yang nggak tertarik). Tapi jelas, kami berdua sama-sama tertarik dengan topik random yang ujung-ujungnya bisa bikin pusing sendiri, atau kalau lagi untung, yaa bikin saya berkontemplasi.

Balik lagi ke orang yang ada di area abu-abu. Percakapan ini diawali dengan hidup kami yang terkesan begitu-begitu aja. Datar, lurus, tawar, tidak mempunyai rasa, tidak berbumbu bagai pasta jenis sapu lidi yang nggak diolah. Nggak ada rasanya. Kehidupan kami yang begitu, kami bandingkan dengan teman-teman kami yang begitu mudahnya mencapai mimpi mereka. Setidaknya, menurut kami, mereka punya warna sendiri dalam hidupnya. Biasa, kami ini orang-orang yang iri terhadap kesuksesan orang lain yang meraih mimpi lebih dulu. Tenang, kami iri tanpa rasa benci.

Obrolan kami kurang lebih seperti ini:

....
Dia: "Gimana ya, Cuy?"
Saya : "Iya nih."
Kami: (menghela napas berat) "Hhhhh..."
Saya: "Kalau lewat beasiswa, kita nggak cukup pinter. Sekolah gw juga di swasta, prestasi juga pas-pasan. Biaya sendiri apalagi, nggak mungkin banget."
Dia: "Iya sih"
Saya: "Kalau mau kita tinggal di Papua sekalian, atau di Aceh. Kans buat dapet beasiswa lebih banyak. Eh, gimana kalau kita jadi snob aja?"
Dia: (ketawa) "Snob gimana maksud lo?"
Saya: "Iya, biasanya kan kalo orang snob, pasti suka dapet apa yang dia mau. Kayak si bla bla bla.."
Dia: "Tapi kagak gitu juga, dul! Kalau mau snob tapi nggak sesuai sama realita, jatohnya malah jadi loser. Kayak temen gw, bla bla bla..."
Saya: "Iya juga, ya."
Kami: (menghela napas berat dan panjang) "Hhhhhhhhh...."

Obrolannya lebih panjang dari ini sebetulnya, tapi saya juga lupa detilnya seperti apa. Yang saya inget adalah, percakapan model begini pasti diselingi banyak sekali helaan napas berat dan panjang. hahaha...oh, tatapan dan ekspresi mencelos juga. Ngenes banget kalau diinget-inget. Eeerrr...agak sedikit pathetic sih lebih tepatnya. hahaha..

Mau diulang berapa kali pun, kami nggak pernah mencapai satu konklusi (apa sih arti kata ini?) tentang bagaimana kami harus bersikap agar kami bisa keluar dari area ini. Seenggaknya, kami bisa masuk ke Red area, Purple, Green (warna kesukaannya Dorris), atau bahkan Shocking pink area.



Hhhhhh...
(helaan napas berat itu merupakan ungkapan atas ketidaktahuan saya akan tujuan penulisan tulisan yang saya tulis ini *eeaaa*  -_-' ).

Thursday, April 21, 2011

Minum dulu mas..

Pada suatu malam, saya berada di sebuah bis Mayasari Bakti jurusan Senen-Ciputat setelah berkelana di daerah Sudirman. Di setiap angkutan umum di Jakarta, pengamen bukan lagi pemandangan aneh. Nah, begitu juga dalam bis yang saya tumpangi malam itu. Jaman emang udah berubah, begitu juga modus untuk meminta uang dari penumpang. Bukan lagi bernyanyi atau baca puisi, tapi sudah sampai tahap debus, alias makan silet. Dikira sini takut kalau situ makan silet?? sini udah biasa ngelalap golok bang (idiiihh..somboongg)

Tapiiiii...kayaknya yang naik ke bis itu masih amatiran deh, karena gini..

Mas-mas debus (MMD) : "Permisi yah Om dan Tante, saya disini hanya ingin mencari uang untuk membantu teman saya yang kemarin tertabrak busway. Dia dirawat di Rumah Sakit AL..sekarang dia meninggal..(Lha, kalo sudah meninggal apa lagi yang harus dibantu??). Saya tidak akan bernyanyi yah Om dan Tante..tapi saya akan memakan silet yah Om dan Tante. Silet ini lebih tajam dari apapun yah Om dan Tante (lalu merobek-robek kertas dengan siletnya itu)"

-- Krauk..krauk..krauk..nyemm..nyemm..nyeemm-- (dia makan lah itu silet sampai habis) --

MMD: "Ya..begiulah Om an Ante ya..tsobalah ndimbanu, ya Om an Ante ya.. Ayena tsetsama manutsya hauts tsaying mbantu ya Om an Ante ya..(mengedarkan bungkus permen) Maatsyih..ihlatsy ya Om..ihlatsy ya Ante.."
(terjemahan: Ya..begitulah Om dan Tante ya..cobalah dibantu ya Om dan Tante ya. Karena sesama manusia harus saling membantu ya Om dan Tante ya..Makasih..Ikhlas ya Om..ikhlas ya tante)

Saya: "bhuwahahahaha...kenapa mas?? keselek silet???" (dalam hati tentunya)

Wednesday, April 20, 2011

Selamat datang ke dunia, Shoffa, Jr!!!


Perutnya yang membuncit itu sekarang udah kempes lagi, karena si penghuni baru dunia sudah nggak sabar melihat mama-papanya. 

Oom, Tante, temen-temen semua..perkenalkan, namaku
Raisa Latifa
(18 Maret 2011)



"Seneng sekarang udah ada mainan baru" -Shoffa- 

Dan dengan kejamnya, dia manggil putri cantiknya itu dengan panggilan kesayangan; Ade Rai.. 

Semoga Raisa jadi anak yang selalu memberi warna indah pada dunia ya. Jadi cahaya yang menerangi rumah Mama Shoffa dan Papa Budi 
kecup sayang dari si tante kece *mwwaaahhh*




acakadul bin amburadut

Sewaktu iseng buka-buka foto di laman Facebook saya, ternyata banyak banget foto yang ajaib-ajaib, eerrr..kebanyakan bodoh sih. Jadi saya mau kasih liat disini..(maap udah umbar aib kalian yahhh.. muhahahahaha *ketawa Gorgom)



ki-ka: Agung dan Si Kece
--ini nggak jelas banget maksudnya apa --

atas-bawah: Cici dan Yence a.k.a mantan duo sejoli..
nggak pernah nyangka Cici bisa segirang itu kalo difoto.


Kita pun punya Yono Mraz..si gosip boy slash rempong boy slash idola kru GG! 


kangen banget nih dengan posisi tidur ajaib pas jam kantor gini..dan kubikel saya waktu itu masih pewe bangettt.


liat tampang Grace? Priceless.. :))

|

|

|

|

|
|

|

|

|

|

Tapi ini yang paling juara...

bahahahaha.




sumber foto: macem-macem..
ps: gimana gak kangen cobaaaa???? *nangis darah*






Tuesday, March 8, 2011

Movie on the Next Level



*dunia teknologi emang udah makin gokil setiap harinya..ide-ide yang berkembang juga makin "sadis" dan out of the world itself. Akan jadi seperti apa yah film-film di akhir abad ini? Wheew! membayangkannya aja saya nggak "nyampe".

Wednesday, March 2, 2011

-_-'

Suatu hari, di tempat untuk nge-print dan desain yang namanya sudah terkenal dan tersebar di seantero Jakarta.

Saya : "Mas, tolong di print ya. Yang ini" (nunjuk file)
Si Mas-mas : "Warna atau hitam putih, mbak?"
Saya : "Hitam putih aja"
Si Mas-mas : (ngeklik-klik file yang mau diprint) "Ini yah?"
Saya : "Iya"
Si Mas-mas : "Tapi nggak akan nge-pink mbak."
Saya : "Hah?"
Si Mas-mas : "Pink nya nggak akan keluar"
Saya : "Kan emang print hitam putih..." (menghela napas)

Friday, February 18, 2011

New Video: Lotus Flower - Radiohead

Finally, the new video from the newest album of Radiohead, King of Limbs (out February 19, 2011) has arrive. Enjoy!


-- I knew he can dance!!! Thom is a Genius and Freak at the same time. His dance moves make me love him even more --

Monday, February 14, 2011

Manusia itu memang kadang-kadang bodoh kalau udah masuk urusan hati. 
Kebanyakan hanya memupuk halusinasi untuk membuat dirinya merasa lebih baik. 
Orang-orang sekitarnya pun memberikan dukungan, padahal mereka tahu jika semuanya palsu.


Saya sempat sudah pada tahap tidak ingin terlibat dalam hal macam begitu. 
Saya udah nggak pengen lagi berada dalam situasi seperti itu.
Tapi sekarang saya malah menyeret diri saya ke dalam tipuan yang lebih hebat lagi. 
Sebalnya, saya tahu kalau saya sedang menipu diri sendiri.
Menyenangkan, tapi semu.

Sunday, February 13, 2011

Saya Benci PMS!!

Saya yakin bukan cuma saya perempuan yang membenci detik-detik menjelang masa menstruasi ini. Perasaan jadi campur aduk, tingkat sensitifitas super tinggi, perasaan galau berlebihan dan merasa labil macam anak ABG, belum lagi pegal-pegal di pinggang dan punggung dialami perempuan setiap bulannya.

Karena saya sudah mendapat haid sekitar 13 tahun yang lalu, hal ini jadi mendapat pemakluman setiap bulannya. dengan sendirinya saya memaklumi rasa nggak puguh, rasa sakit yang bikin saya mual dan muntah-muntah, emosi bergejolak dan nyembur tidak pandang bulu. Saya memaklumi semua itu, tiap bulannya.

Tapi ada satu hal yang selalu datang kepada saya dalam masa seperti itu tapi saya sama sekali belum bisa memakluminya seperti yang lain. Saya selalu teringat Bapak saya setiap saya PMS. Rasanya? Memuakkan! Bahkan membuat saya lebih mual daripada yang seharusnya. Yang paling memuakkan adalah saya tidak bisa mencegah perasaan itu datang. Saya tidak terima otak saya digunakan untuk mengingat dia setiap bulan. Dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan terhadap hal ini adalah saya menolak untuk maklum biarpun rasanya jadi lebih menyakitkan hati karena penolakan itu justru membuat saya ingat dia. Padahal saya tahu, nggak wajar untuk mengingat seseorang yang tidak pernah kita kenal wujudnya.

Dan sekarang, sudah waktunya saya memasuki masa-masa PMS bulan Februari. Saya siap dengan rasa mual, rasa pegal, perut keram, emosi meledak-ledak dan nafsu makan yang bertambah, namun untuk mengingat orang itu, saya tetap menolak!

Tuesday, February 8, 2011

Katanya Kotex, saya itu...



kekecilan yah hurufnya? ini nih saya kasih yang besar...hehe

Kamu adalah:
Chill Girl
Ini adalah motif Chill Girl kamu.
Hey hey, bagi kamu hidup itu sederhana dan santai. Kamu ngga akan meributkan yang kecil-kecil dan heran kenapa orang menghabiskan banyak uang untuk sepatu atau tas. Kamu easygoing dan tenang, dengan santai dan nyaman, itulah mantra kamu. Teman dan pertemanan sangat penting bagi kamu. Mungkin kamu punya beberapa masalah tapi hampir semua orang juga punya kan?



Tapi kalau saya cek ricek ke diri sendiri, kayaknya saya nggak tenang-tenang amat tuh..malah sering banget ngeributin hal remeh.hihihi.

Kalau mau iseng-iseng nyoba kuisnya, kesini aja ya :)

Happy Family



Mungkin saya berlebihan, tapi begitu lihat foto ini di Facebook, saya merinding dan rasanya pengen nangis karena senang melihat mereka terlihat bahagia.

Love you Alanis, Mario and you little cute baby :*

Tuesday, February 1, 2011

Tom Waits: The Genius Man

Sewaktu blogwalking, saya nyasar ke wild at heart dan menemukan interview pemilik blog dengan Tom Waits. Saya nggak kenal Tom Waits, tapi setelah cari tau, ternyata dia seorang musisi sekaligus aktor yang pernah main di Imaginarium of Dr. Parnassus, sebagai Mr. Nick atau The Devil. Padahal saya pernah nonton film itu dan peran Mr. Nick benar-benar membekas, tapi lupa nama pemerannya (d'oh!) 

Setelah baca, saya setuju sama kesimpulan singkat penulis di akhir wawancara. Tom Waits emang jenius! 

by T. Waits
I must admit, before meeting Tom, I had heard so many rumors and so much gossip that I was afraid. Frankly, his gambling debts, his animal magnetism, coupled with his disregard for the feelings of others… His elaborate gun collection, his mad shopping sprees, the facelifts, the ski trips, the drug busts and the hundreds of rooms in his home. The tax shelters, the public urination… I was nervous to meet the real man himself. Baggage and all. But I found him to be gentle, intelligent, open, bright, helpful, humorous, brave, audacious, loquacious, clean, and reverent. A Boy Scout, really (and a giant of a man). Join me now for a rare glimpse into the heart of Tom Waits. Remove your shoes and no smoking, please.


Q: What’s the most curious record in your collection?
A: In the seventies a record company in LA issued a record called “The best of Marcel Marceau.” It had forty minutes of silence followed by applause and it sold really well. I like to put it on for company. It really bothers me, though, when people talk through it.



Q: What are some unusual things that have been left behind in a cloakroom?
A: Well, Winston Churchill was born in a ladies cloakroom and was one sixteenth Iroquois.



Q: You’ve always enjoyed the connection between fashion and history…talk to us about that.
A: Okay, let’s take the two-piece bathing suit, produced in 1947 by a French fashion designer. The sight of the first woman in the minimal two-piece was as explosive as the detonation of the atomic bomb by the U.S. at Bikini Island in the Marshall Isles, hence the naming of the bikini.



Q: List some artists who have shaped your creative life.
A: Okay, here are a few that just come to me for now: Kerouac, Dylan, Bukowski, Rod Serling, Don Van Vliet, Cantinflas, James Brown, Harry Belafonte, Ma Rainey, Big Mama Thorton, Howlin Wolf, Lead Belly, Lord Buckley, Mabel Mercer, Lee Marvin, Thelonious Monk, John Ford, Fellini, Weegee, Jagger, Richards, Willie Dixon, John McCormick, Johnny Cash, Hank Williams, Frank Sinatra, Louis Armstrong, Robert Johnson, Hoagy Carmichael, Enrico Caruso.


Q: List some songs that were beacons for you.
A: Again, for now… but if you ask me tomorrow the list would change, of course.
Gershwin’s second prelude, “Pathatique Sonata,” “El Paso,” “You’ve Really Got Me” (Kinks), “Soldier Boy” (Shirelles), “Lean Back” (Fat Joe), “Night Train,” “Come In My Kitchen” (R.J.), “Sad Eyed Lady,” “Rite of Spring,” “Ode to Billy Joe,” “Louie Louie,” “Just a Fool” (Ike and Tina),” “Prisoner of Love” (J.B.), “Pitch a Wing Dan Doodle (All Night Long)” (H. Wolf), “Ringo” (Lorne Green), “Ball and Chain,” “Deportee,” “Strange Fruit,” “Sophisticated Lady,” “Georgia On My Mind,” “Can’t Stop Loving You,” “Just Like A Woman,” “So Lonesome I Could Cry,” “Who’ll Stop The Rain?,” “Moon River,” “Autumn Leaves,” “Danny Boy,” “Dirty Ol’ Town,” “Waltzing Mathilda,” “Train Keeps a Rollin,” “Boris the Spider,” “You’ve Really Got a Hold On Me,” “Red Right Hand,” “All Shook Up,” “Cause Of It All,” “Shenandoah,” “China Pig,” “Summertime,” “Without a Song,” “Auld Lang Syne,” “This Is a Man’s World,” “Crawlinking Snake,” “Nassun Dorma,” “Bring It on Home to Me,” “Hound Dog,” “Hello Walls,” “You Win Again,” “Sunday Morn’ Coming Down,” “Almost Blue,” “Pump It Up,” “Greensleeves,” “Just Wanna See His Face” (Stones), “Restless Farewell,” “Fairytale of New York,” “Bring Me A Little Water Sylvie,” “Raglan Road,” “96 Tears,” “In Dreams” (R. Orbison), “Substitute,” “Good Time Charlie’s Got The Blues,” Theme from Rawhide, “Same Thing,” “Walk Away Renee,” “For What It’s Worth,” theme from Once Upon A Time In America, “Nowadays Clancy Can’t Even Sing,” “Oh Holy Night,” “Mass in E Minor,” “Harlem Shuffle,” “Trouble Man,” “Wade in The Water,” “Empty Bed Blues,” “Hava Nagila”



Q: What’s heaven for you?
A: Me and my wife on Rte. 66 with a pot of coffee, a cheap guitar, pawnshop tape recorder in a Motel 6, and a car that runs good parked right by the door.



Q: What’s hard for you?
A: Mostly I straddle reality and the imagination. My reality needs imagination like a bulb needs a socket. My imagination needs reality like a blind man needs a cane. Math is hard. Reading a map. Following orders. Carpentry. Electronics. Plumbing. Remembering things correctly. Straight lines. Sheet rock. Finding a safety pin. Patience with others. Ordering in Chinese. Stereo instructions in German.



Q: What’s wrong with the world?
A: We are buried beneath the weight of information, which is being confused with knowledge; quantity is being confused with abundance and wealth with happiness. Leona Helmsley’s dog made $12 million last year… and Dean McLaine, a farmer in Ohio, made $30,000. It’s just a gigantic version of the madness that grows in every one of our brains. We are monkeys with money and guns.



Q: Favorite scenes in movies?
A: R. De Niro in the ring in Raging Bull. Julie Christie’s face in Heaven Can Wait when she said, “Would you like to get a cup of coffee?” James Dean in East of Eden telling the nurse to get out when his dad has had a stroke and he’s sitting by his bed. Marlena Dietrich in Touch of Evil saying “He was some kind of man.” Scout saying “Hey Mr. Cunningham” in the scene in To Kill A Mockingbird. Nic Cage falling apart in the drug store in Matchstick Men… and eating a cockroach in Vampire’s Kiss. The last scene in Chinatown.



Q: Can you describe a few other scenes from movies that have always stayed with you?
A: Rod Steiger in Pawn Broker explaining to the Puerto Rican all about gold. Brando in The Godfather dying in the tomatoes with scary orange teeth. Lee Marvin in Emperor Of The North riding under the box car, Borgnine bouncing steel off his ass. Dennis Weaver at the motel saying “I am just the night man,” holding onto a small tree in Touch of Evil. The hanging in Oxbow Incident. The speech by Rutger Hauer in Blade Runner as he’s dying. Anthony Quinn dancing on the beach in Zorba. Nicholson in Witches of Eastwick covered in feathers in the church as the ladies stick needles in the voodoo doll. When Mel Gibson’s Blue Healer gets shot with an arrow in Road Warrior. When Rachel in The Exorcist says “Could you help an old altar boy, father?” The blind guy in the tavern in Treasure Island. Frankenstein after he strangles the young girl by the river.



Q: Can you tell me an odd thing that happened in an odd place? Any thoughts?
A: A Japanese freighter had been torpedoed during WWII and it’s at the bottom of Tokyo Harbor with a large hole in her hull. A team of engineers was called together to solve the problem of raising the wounded vessel to the surface. One of the engineers tackling this puzzle said he remembered seeing a Donald Duck cartoon when he was a boy where there was a boat at the bottom of the ocean with a hole in its hull, and they injected it with ping-pong balls and it floated up. The skeptical group laughed, but one of the experts was willing to give it a try. Of course, where in the world would you find twenty million ping-pong balls but in Tokyo? It turned out to be the perfect solution. The balls were injected into the hull and it floated to the surface; the engineer was altered. Moral: Solutions to problems are always found at an entirely different level; also, believe in yourself in the face of impossible odds.



Q: Most interesting recording you own?
A: It’s a mysteriously beautiful recording from, I am told, Robbie Robertson’s label. It’s of crickets. That’s right, crickets. The first time I heard it… I swore I was listening to the Vienna Boys Choir, or the Mormon Tabernacle choir. It has a four-part harmony. It is a swaying choral panorama. Then a voice comes in on the tape and says, “What you are listening to is the sound of crickets. The only thing that has been manipulated is that they slowed down the tape.” No effects have been added of any kind, except that they changed the speed of the tape. The sound is so haunting. I played it for Charlie Musselwhite, and he looked at me as if I pulled a Leprechaun out of my pocket.



Q: You are fascinated with irony. What is irony?
A: Chevrolet was puzzled when they discovered that their sales for the Chevy Nova were off the charts everywhere but in Latin America. They finally realized that “Nova” in Spanish translates to “no go.” Not the best name for a car… anywhere “no va.”



Q: Do you have words to live by?
A: Jim Jarmusch once told me, “Fast, Cheap, and Good… pick two. If it’s fast and cheap, it won’t be good. If it’s cheap and good, it won’t be fast. If it’s fast and good, it won’t be cheap.” Fast, cheap and good… pick (2) words to live by.



Q: What is on Hemingway’s gravestone?
A: “Pardon me for not getting up.”



Q: How would you compare guitarists Marc Ribot and Smokey Hormel?
A: Octopus have eight and squid have ten tentacles, each with hundreds of suction cups and each with the power to burst a man’s artery. They have small birdlike beaks used to inject venom into a victim. Some gigantic squid and octopus with 100-foot tentacles have been reported. Squids have been known to pull down entire boats to feed on the disoriented sailors in the water. Many believe unexplained, sunken deep-sea vessels and entire boat disappearances are the handiwork of giant squid.



Q: What have you learned from parenthood?
A: “Never loan your car to anyone to whom you’ve given birth.” - Erma Bombeck



Q: Now Tom, for the grand prize… who said, “He’s the kind of man a woman would have to marry to get rid of”?
A: Mae West



Q: Who said, “Half the people in America are just faking it”?
A: Robert Mitchum (who actually died in his sleep). I think he was being generous and kind when he said that.



Q: What remarkable things have you found in unexpected places?
A:
1. Real beauty: oil stains left by cars in a parking lot.
2. Shoeshine stand that looked like thrones in Brazil made of scrap wood.
3. False teeth in pawnshop windows in Reno, Nevada.
4. Great acoustics: in jail.
5. Best food: Airport in Tulsa, Oklahoma.
6. Most gift shops: Fatima, Portugal.
8. Most unlikely location for a Chicano crowd: A Morrissey concert.
9. Most poverty: Washington, D.C.
10 A homeless man with a beautiful operatic voice singing the word “Bacteria” in an empty dumpster in Chinatown.
11. A Chinese man with a Texas accent in Scotland.
12. Best nights sleep: in a dry riverbed in Arizona.
13. Most people who wear red pants: St. Louis.
14. Most beautiful horses: New York City.
15. A judge in Baltimore, Maryland, in 1890 presided over a trial where a man who was accused of murder and was guilty — convicted by a jury of his peers — was let go, when the judge said to him at the end of the trial, “You are guilty, sir… but I cannot put in jail an innocent man.” You see, the murderer was a Siamese twin.
16. Largest penis (in proportion to its body): The Barnacle



Q: Tom, you love words and their origins. For $2,000, what is the origin of the word bedlam?
A: It’s a contraction of the word Bethlehem. It comes from the hospital of Saint Mary of Bethlehem outside London. The hospital began admitting mental patients in the late 14th century. In the 16th century, it became a lunatic asylum. The word bedlam came to be used for any madhouse — and, by extension, for any scene of noisy confusion.



Q: What is up with your ears?
A: I have an audio stigmatism whereby I hear things wrong — I have audio illusions. I guess now they say ADD. I have a scrambler in my brain and it takes what is said and turns it into Pig Latin and feeds it back to me.



Q: Most thrilling musical experience?
A: My most thrilling musical experience was in Times Square, over thirty years ago. There was a rehearsal hall around the Brill Building where all the rooms were divided into tiny spaces with just enough room to open the door. Inside was a spinet piano — cigarette burns, missing keys, old paint and no pedals. You go in and close the door and it’s so loud from other rehearsals you can’t really work, so you stop and listen. The goulash of music was thrilling. Scales on a clarinet, tango, light opera, sour string quartet, voice lessons, someone belting out “Everything’s Coming Up Roses,” garage bands, and piano lessons. The floor was pulsing, the walls were thin. As if ten radios were on at the same time, in the same room. It was a train station of music with all the sounds milling around… for me it was heavenly.



Q: What would you have liked to see but were born too late for?
A: Vaudeville. So much mashing of cultures and bizarre hybrids. Delta Blues guitarists and Hawaiian artists thrown together, resulting in the adoption of the slide guitar as a language we all take for granted as African-American. But it was a cross pollination, like most culture. Like all cultures. George Burns was a Vaudeville performer I particularly loved. Dry and unflappable, curious, and funny — no matter what he said. He could dance, too. He said, “Too bad the only people that know how to run the country are busy driving cabs and cutting hair.”



Q: What is a gentleman?
A: A man who can play the accordion, but doesn’t.



Q: Favorite Bucky Fuller quote?
A: “Fire is the sun unwinding itself from the wood.”



Q: What do you wonder about?
A:
1. Do bullets know whom they are intended for?
2. Is there a plug in the bottom of the ocean?
3. What do jockeys say to their horses?
4. How does a newspaper feel about winding up papier-mache?
5. How does it feel to be a tree by a freeway?
6. Sometimes a violin sounds like a Siamese cat; the first violin strings were made from cat gut. Any connection?
7. When is the world going to rear up and scrape us off its back?
8. Will we humans eventually intermarry with robots?
9. Is a diamond just a piece of coal with patience?
10. Did Ella Fitzgerald really break that wine glass with her voice?



Q: What are some sounds you like?
A:
1. An asymmetrical airline carousel creating a high-pitched haunted voice brought on by the friction of rubbing; it sounds like a big wet finger circling the rim of a gigantic wine glass.
2. Street corner evangelists
3. Pile drivers in Manhattan
4. My wife’s singing voice
5. Horses coming/trains coming
6. Children when school’s out
7. Hungry crows
8. Orchestra tuning up
9. Saloon pianos in old westerns
10. Rollercoaster
11. Headlights hit by a shotgun
12. Ice melting
13. Printing presses
14. Ball game on a transistor radio
15. Piano lessons coming from an apartment window
16. Old cash registers/Ca Ching
17. Muscle cars
18. Tap dancers
19. Soccer crowds in Argentina
20. Beatboxing
21. Fog horns
22. A busy restaurant kitchen
23. Newsrooms in old movies
24. Elephants stampeding
25. Bacon frying
26. Marching bands
27. Clarinet lessons
28. Victrola
29. A fight bell
30. Chinese arguments
31. Pinball machines
32. Children’s orchestras
33. Trolley bell
34. Firecrackers
35. A Zippo lighter
36. Calliopes
37. Bass steel drums
38. Tractors
39. Stroh Violin
40. Muted trumpet
41. Tobacco auctioneers
42. Musical saw
43. Theremin
44. Pigeons
45. Seagulls
46. Owls
47. Mockingbirds
48. Doves

The world’s making music all the time.


Q: What’s scary to you?
A:
1. A dead man in the backseat of a car with a fly crawling on his eyeball.
2. Turbulence on any airline.
3. Sirens and search lights combined.
4. Gunfire at night in bad neighborhoods.
5. Car motor turning over but not starting; it’s getting dark and starting to rain.
6. Jail door closing.
7. Going around a sharp curve on the Pacific Coast Highway and the driver of your car has had a heart attack and died, and you’re in the back seat.
8. You are delivering mail and you are confronted with a Doberman with rabies growling low and showing teeth — you have no dog bones and he wants to bite your ass off.
9. In a movie, which wire do you cut to stop the time bomb, the green or the blue?
10. McCain will win.
11. Germans with submachine guns.
12. Officers, in offices, being official.
13. You fell through the ice in the creek and it carried you downstream, and now as you surface you realize there’s a roof of ice.



Q: Tell me about working with Terry Gilliam.
A: I am the Devil in the Imaginarium of Dr. Parnassus — not a devil; The Devil. I don’t know why he thought of me. I was raised in the church. Gilliam and I met on Fisher King. He is a giant among men and I am in awe of his films. Munchausen I’ve seen a hundred times. Brazil is a crowning achievement. Brothers Grimm was my favorite film last year. I had most of my scenes with Christopher Plummer (He’s Dr. Parnassus). Plummer is one of the greatest actors on earth! Mostly I watch and learn. He’s a real movie star and a gentleman. Gilliam is an impresario, captain, magician, a dictator (a nice one), a genius, and a man you’d want in the boat with you at the end of the world.



Q: Give me some fresh song titles you two are working on.
A: “Ghetto Buddha,” “Waiting For My Good Luck To Come,” “I’ll Be an Oak Tree Some Day,” “In the Cage,” “Hell Broke Loose,” “Spin The Bottle,” “High and Lonesome.”


Genius.

Sunday, January 23, 2011

-_-

Suatu hari...

Pak Kirno (supir kantor) : "Bu Santi mau ke Kendari, Chad"
Richard (OB kantor) : "Iya, itu kan di Jawa Tengah ya Pakde?"
Pak Kirno: "Ngawur kamu..Kendari adanya di Jawa Timur!"
Richard: "Nggak ah..setau saya di Jawa Tengah dah"
Bu Santi (a.k.a BuBos): "Haduuhh..Bukaaaaaaaannnn...yang di Jawa Tengah itu Kendal, Kediri di Jawa Timur. Kalau Kendari di Sulawesi..heeeuuhhhh!!!"

Thursday, January 20, 2011

is she too soon or is he too late?

Percakapan dengan seseorang pada Kamis sore sebelum pulang kantor.

....
Dia: Tp lu kost dkt kantor bukan?
Saya: iya sih..heheh..tapi rencananya mau ke gramed, numpang baca
Dia: Hhhmm.. gramed mana Din?
Saya: gramed blok m..kata temen gw disana lengkap..
Saya: belom pernah kesana sih..penasaran. hehe
Dia: gw lupa, lo copywriter ya?
Saya: betul
Saya: he? kenapakah?
Dia: Gpp..
Saya: udzah adzan lhooo..
Saya: mari shalat
Dia: Iyaa. Gw baru aja slesai
Saya: samaaa..hoho
Saya: dan sekarang siap2 balik
Dia: Lo ke gramed sm temen2 ya Din
Saya: nggak sendiri
Dia: Oohh..
Saya: semuanya pada sibuk soalnya..heheh
Saya: lo udah mau balik apa masih nunggu?
Dia: Udh bisa balik siih..
Saya: hooo...kalo gitu gw duluan atuh yaa
Saya: (ikon melambaikan tangan)
Saya: (menekan tombol sign out)
-------------------------------------

Hari Jumat pagi, ketika menyalakan komputer, di layar saya muncul sebuah kotak dengan titel Offline Messages sisa percakapan kemarin. Isinya,

Dia: Waaaiiit.. Boleh gw temenin ga Din?


Perihal ngetem dan hidup

Sepulang dari Blok M tadi malem, seperti biasa saya naik Metro Mini 610 jurusan pondok Labu yang terkenal suka ngoper-ngoper penumpang (emang kita bola bang, dioper-oper??!!?). Jelas bikin keki berat. Tapi karena nggak ada angkutan lain yang lewat Fatmawati dengan tarif murah begitu, mau nggak mau 610 tetep jadi pilihan utama saya.

Nah, malam tadi ada ibu yang baru naik aja udah "nodong" supirnya dengan pertanyaan, "Bang, ini bakal di oper nggak nih?", yang dijawab supir dengan nggak pasti, lalu disambut cibiran oleh si ibu "Yeee.." katanya, tapi pemenangnya tetep si abang karena menutup sesi tanya jawab dengan kalimat, "Kalau nggak mau, nggak usah naik bu!". Reaksi kekalahan si ibu adalah diam dan langsung duduk manis di belakang saya. Pasrah.

Paling males emang dianggap nggak penting dan seenaknya dioper di tengah jalan, padahal sudah hampir sampai, masih jauh atau bahkan ketika menahan kantuk. Reaksi penumpang juga macem-macem, dari yang manggil peliharaannya dirumah, mencak-mencak, menghela nafas berat, atau diam sambil menuju angkutan sebelahnya (tipe reaksi yang saya lakukan dalam keadaan begini), tapi kebanyakan hasilnya sama. Sopir tetap bergeming bagaikan kuping cuma sekedar tempelan. Nggak mau dia dengar keluhan penumpangnya, toh beban hidupnya aja udah banyak. Pada penumpang pun hasilnya selalu begitu, pindah ke angkutan lain walau dengan hati panas, dan gerutuan tiada akhir. Kalau udah gini, mendingan ngetem lama-lama tapi tiba di tujuan dengan angkutan yang sama tanpa dioper-oper, daripada harus menclak-menclok di tengah jalan.

Begitu juga hidup. Kadang, kita selalu merasa nggak sabaran untuk bisa sampai di "tujuan". Menunggu adalah hal tabu, "Kalau bisa sekarang, ngapain nunggu?!", itu pikirnya. Tapi, tak jarang juga ketika kita kira sudah dalam perjalanan menuju mimpi, harapan dan tujuan masing-masing, banyak sandungan yang membuat kita harus "dioper" pada sesuatu yang sama sekali tidak kita sukai. Padahal kita lagi senang-senangnya bermanjaan sama pacar, atau tabungan udah mulai penuh, atau rumah tangga kelihatannya masih adem ayem, atau sahabat kita kayaknya orang yang paling setia, dll.eeehh, ditengah jalan malah putus, bercerai, putus hubungan dengan sahabat karena kepribadiannya mulai tidak kita kenal lagi, dll.

Jadi, daripada mengalami itu semua, saya memilih "ngetem" dulu sebelum saya memutuskan berangkat. Kalaupun di tengah jalan saya mengalami hal yang tidak mengenakkan, saya akan turun karena pilihan, bukan keadaan.

Intel Visual Life - The Sartorialist


Siapa penekun dan orang yang mengaku into fashion di dunia yang nggak kenal dengan satu blog yang isinya foto orang-orang dengan fashionable dari jalanan seluruh dunia, The Sartorialist? Kebangetan deh kalo orang yang mengaku stylish tapi nggak tahu blog ini. Orang dibalik hip-nya blog ini adalah Scott Schuman, seorang blogger sekaligus fotografer untuk fashion blog ini. (jadi, sekarang saya tau ada dua orang blogger laki-laki di dunia ini yang kerjanya motretin orang di jalan; Scott dan Yvan Rodic dengan Face Hunter)


Di film dokumenter ini, kita bisa liat Scott "nyari korban". Kalau ada siapapun yang menarik perhatiannya di jalanan, udah pasti bakal disamperin dan disuruh pose untuk di potret. Bahkan dia juga moto tukang banguna yang menurut saya sih agak aneh, tapi bukankah sudut pandang mata uniknya selama ini yang membuat blognya dipuja-puji?!


Ketika Scott mendatangi orang-orang untuk memotret mereka, nggak semuanya ditanggapi ramah. Ada mbak-mbak yang awalnya menanggapi dengan malas, namun ketika Scott bilang dia dari Sartorialist, intonasi si mbak langsung melunak dan dengan senang hati berpose manis untuk Scott. Jadi kayak magic word gitu ya? keren.. Menurut saya, dia sangat memberikan inspirasi.


"I thought I could shoot people on the street the way designers looked at people, and get and give inspiration to lots of people in the process. My only strategy when I began The Sartorialist was to try and shoot style in a way that I knew most designers hunted for inspiration" - Scott Schuman.

***


Waktu liat Scott "berburu", saya jadi ingat ketika saya masih di Gogirl! dan cari-cari orang untuk rubrik You Say So, dimana saya harus nanya opini dan mendapatkan gambar mereka. reaksi anak-anak muda itu persis dengan yang dihadapi Scott. Ketika saya menegur mereka, tanggapan mereka males-malesan, memandang saya dengan tatapan waspada dari ujung rambut sampai ujung kuku untuk memastikan saya bukan dari yayasan pemohon sumbangan fiktif. Tapiiiii..ketika bilang kalau saya dari Gogirl! semuanya berubah. Mereka mendadak jadi ramah, nanya ini-itu bla bla bla..Saat itu, senang rasanya punya "kata ajaib" yang bisa menaklukan para ABG di Jakarta Raya :D.  (mulai berlebihan)

cute little tattoos












makes me wanna have one!!!

Tuesday, January 4, 2011

-_-

Siang ini datang teknisi ke kantor untuk upgrade komputer para desainer. Mumpung lagi ada teknisi, teman saya ikut-ikutan nanya perihal memori laptopnya yang mau ditambah.

Si Teman yang Memori Mau Ditambah (STMMD) : (sambil bawa-bawa laptop ke hadapan Teknisi yang Budiman) "Jadi ini gimana nih kalo ditambahin lagi memorinya?"
Teknisi Budiman (TB) : (bergeming sambil kasak-kusuk di depan salah satu komputer)
Teman yang Lain (TL) : "Perhatiin kecepatannya pak kalo mau nambah memori, tapi nggak tau juga kalo Windows, nggak ngerti"
STMMD : (keukeuh mau ganti memori dan berniat mengganti sendiri) "Ini gimana nih cara gantinya?"
TB : (akhirnya menjawab) : "Wah, saya agak ragu kalau Windows pak, soalnya saya lahir di Macintosh"


Saya : (dengan mata menyipit ke arahnya) Rumah Sakit daerah mana tuh? -- dalam hati yah ini :p

Monday, January 3, 2011

Tulisan macam apa iniii?!

Pernah nggak mengalami titik dimana kita nggak mau sama sekali memberikan kabar terbaru kita sama orang lain? kalo pernah, toss dulu sama saya. Soalnya saya juga lagi dalam tahap itu sekarang. Jeda dari postingan terakhir aja udah lumayan jauh. Niat nulis minimal seminggu sekali pun nggak terealisasi.

Nggak tau juga sih penyebabnya apa. sekarang saya malaaaaaaasss sekali nulis-nulis untuk ngasih tau keadaan saya dengan nulis status di Facebook, jadi saya mengunjungi situs itu hanya untuk liat update-an temen-temen saya lalu sesekali komen dan main game. hehe. Mungkin karena saya menganggap nggak ada yang penting juga sih untuk diberitahu sama orang lain.

Dulu, kalau pas akhir minggu, saya pasti langsung tulis di status saya sekedar mengucapkan "Happy weekend" atau apa kek, tapi semakin hari, hal itu jadi semakin nggak penting. Lagian, tujuannya buat sih? toh yang baca status itu juga kebanyakan bukan orang yang paling dekat sama saya. apa karena umur juga yah? nggak juga ah, saya kan masih muda gitu. Twitter? boro-boro..saya bahkan nggak punya account-nya. Sebetulnya pernah tertarik untuk bikin, tapi balik lagi saya sering nanya diri sendiri, tujuannya apa. Kalau sekedar cuma "pamer" situasi sih nggak cuma di Twitter yah.. Lagipula sebetulnya Twitter punya dampak yang besar terhadap pemenuhan informasi kok.

Bukan berarti saya lagi males nyampah di situs jejaring terus saya jadi anti berkunjung kesana, karena saya punya satu favorit, yang isinya sumpah serapah dan diskusi sampah tentang hidup sama Geng Menye-Menye (minus Grace karena keterbatasan akses internet).


Tiba-tiba menyadari kalau arah pembicaraan saya kemana-mana (seperti biasa) hehe.. 

Waktu masih tinggal di "rumah lama" kayaknya kok banyak tulisan saya yang nampang disana, walaupun tanpa esensi. Walaupun kebanyakan isinya cuma keluhan, setidaknya saya masih punya hasrat untuk berbagi sama orang lain diluar sana. Tapi, ketika pindah kemari, saya malah bisa dibilang buntu..Apa karena embel-embel blogspot bikin beban yah? (apasiiihhh??) hahaha..soalnya, karena blogspot adalah merk global, isinya juga berlatar belakang macem-macem dan isi blog mereka sering bikin saya takjub. Daaaann...sekarang saya lagi nyalahin orang-orang kreatif di blogspot coba?! ini sih namanya buruk muka cermin dibelah ya.. 


kalau lagi hiatus kayak gini, ada nggak yah yang ngangeinin saya di dunia maya?











Udah ketauan belum saya sebenernya cuma cari-cari alasan kenapa saya nggak pernah nulis di blog?