Begitu deh kalau lagi ngobrol serius sama Dorris, saking seriusnya, kita malah sering ngomongin hal-hal random yang rada-rada nggak penting (buat mereka yang nggak tertarik). Tapi jelas, kami berdua sama-sama tertarik dengan topik random yang ujung-ujungnya bisa bikin pusing sendiri, atau kalau lagi untung, yaa bikin saya berkontemplasi.
Balik lagi ke orang yang ada di area abu-abu. Percakapan ini diawali dengan hidup kami yang terkesan begitu-begitu aja. Datar, lurus, tawar, tidak mempunyai rasa, tidak berbumbu bagai pasta jenis sapu lidi yang nggak diolah. Nggak ada rasanya. Kehidupan kami yang begitu, kami bandingkan dengan teman-teman kami yang begitu mudahnya mencapai mimpi mereka. Setidaknya, menurut kami, mereka punya warna sendiri dalam hidupnya. Biasa, kami ini orang-orang yang iri terhadap kesuksesan orang lain yang meraih mimpi lebih dulu. Tenang, kami iri tanpa rasa benci.
Obrolan kami kurang lebih seperti ini:
....
Dia: "Gimana ya, Cuy?"
Saya : "Iya nih."
Kami: (menghela napas berat) "Hhhhh..."
Saya: "Kalau lewat beasiswa, kita nggak cukup pinter. Sekolah gw juga di swasta, prestasi juga pas-pasan. Biaya sendiri apalagi, nggak mungkin banget."
Dia: "Iya sih"
Saya: "Kalau mau kita tinggal di Papua sekalian, atau di Aceh. Kans buat dapet beasiswa lebih banyak. Eh, gimana kalau kita jadi snob aja?"
Dia: (ketawa) "Snob gimana maksud lo?"
Saya: "Iya, biasanya kan kalo orang snob, pasti suka dapet apa yang dia mau. Kayak si bla bla bla.."
Dia: "Tapi kagak gitu juga, dul! Kalau mau snob tapi nggak sesuai sama realita, jatohnya malah jadi loser. Kayak temen gw, bla bla bla..."
Saya: "Iya juga, ya."
Kami: (menghela napas berat dan panjang) "Hhhhhhhhh...."
Obrolannya lebih panjang dari ini sebetulnya, tapi saya juga lupa detilnya seperti apa. Yang saya inget adalah, percakapan model begini pasti diselingi banyak sekali helaan napas berat dan panjang. hahaha...oh, tatapan dan ekspresi mencelos juga. Ngenes banget kalau diinget-inget. Eeerrr...agak sedikit pathetic sih lebih tepatnya. hahaha..
Mau diulang berapa kali pun, kami nggak pernah mencapai satu konklusi (apa sih arti kata ini?) tentang bagaimana kami harus bersikap agar kami bisa keluar dari area ini. Seenggaknya, kami bisa masuk ke Red area, Purple, Green (warna kesukaannya Dorris), atau bahkan Shocking pink area.
Hhhhhh...
(helaan napas berat itu merupakan ungkapan atas ketidaktahuan saya akan tujuan penulisan tulisan yang saya tulis ini *eeaaa* -_-' ).
No comments:
Post a Comment